Minggu, 05 Desember 2010

Test Of Indonesia as a Foreign Language (TOIFL)

Sengaja gw bikin tulisan ini sebagai tanggapan dari akan diadakannya AFTA (Asian Free Trade Area) atau EFTA, atau UFTA, gw lupa apalah itu. Yang jelas, 5 tahun kedepan, realisasi dari program ini akan mulai terasa bagi kita semua, di lihat dari singkatanya.

Berjalannya program AFTA mungkin memang merupakan hal yang bai kkarena selain membuat pasar harga lebih kompeten, AFTA di harapkan menjadi destroyer barang-barang selundupan yang amat marak di negeri kita. Tapi guys, AFTA juga membebaskan employeer dari seluruh negara asia untuk bekerja di seluruh negara asia. Wow

Belum lama ini juga, gw baru nyertifikasi TOEFL yang "katanya" amat penting bagi kita nantinya, oke memang benar gw amini, tapi semakin kesini, lebih banyak TOEFL-TOEFL lain yang menurut gw tidak terlalu perlu bahkan menghancurkan kompetensi pekerja Indonesia sendiri. Seperti sertifikat pekerja kompeten, sertifikat pekerja keras, sertifikat orang pintar, dsb. Haruskah?

Hey kawan, bukan itu yang harus kita lakukan untuk mengcounter AFTA ini, tapi bagaimana caranya kita harus menjadi employeer di negara kita sendiri. Semakin lama semakin banyak orang-orang Indonesia yang bahkan lebih pandai dalam menuturkan bahasa inggris di banding bahasa jawa yang merupakan etnisnya, bahkan lebih baik daripada ia melafalkan bahasa Indonesia. 2x wow

Look at industrial area as a place of our employeer, gw melihat sistem industri didaerah gw yang memberlakukan kebijakan putra daerah sebagai pekerjanya yang menurut gw sangat baik, karena pabrik-pabrik industri itulah yang memakan kebersihan lingkungan kita. Jadi harus ada timbal balik yang cukup bagi masyarakat daerah pabrik tersebut yang berupa pekerjaan bukan ? Jika nanti karena AFTA semakin banyak pabrik-pabrik di Indonesia yang berasal dari negara asing, maka sudah seharusnya memberikan dampak balik yang seimbang untuk kemajuan Indonesia. Benar toh?

Kita adalah negara yang amat potensial dan strategis, sehingga mampu mengundang para investor asing untuk membangun industri di negeri elok yang amat ku cinta ini. hal ini menyebabkan lahirnya sertifikat-sertifikat pemersulit WNI untuk bekerja di industri investor tersebut, sehingga mereka pun mengambil tenaga ahli dari negaranya sendiri, mengapa? karena mereka beranggapan bahwa tenaga kerja mereka lebih baik dan dorongan atas hometown yang menyebabkan mereka mengambil tenaga kerja dari daerah asal mereka sendiri. Hey, masyarakat kita tidak kalah kok dengan negara lain, kita punya UI, kita punya UGM, Undip, ITB, ITS yang akan selalu melahirkan tenaga-tenaga ahli yang mampu bersaing bahkan secara internasional, tidak hanya skala Asia. Karena nya, stop penggunaan tenaga ahli luar negeri, toh tenaga ahli kitapun mempunyai skill yang mumpuni kan? Sehingga jika employeer asing ke Indonesia, mereka memerlukan sertifikasi TOIFL (Test Of Indonesian as a Foreign Language). Karena mereka bekerja di Indonesia, begitu bukan ?

Rabu, 17 November 2010

44 (Four For), for nation, for religion, for us, for next education

Dilema... itulah yang dikatakan sebagian pemuda (khususnya yang terpelajar) untuk menentukan langkah ke jenjang yang lebih tinggi. Untuk pelajar SMA kelas 3 (khususnya gw), sudah barang wajib memiliki target dalam bidang tertentu, as we know, "tidak mencapai target adalah lebih baik daripada tidak mempunyai target".

Sebagian siswa tersebut telah mempunyai target (mungkin di sebut universitas dan program studi tertentu) yang dicukupi intelejensinya, minatnya, bakatnya, dan support dari orang tuanya. Untuk siswa tersebut, gw ucapkan congratulations!. Karena lo tidak akan mengalami hal yang akan gw bahas di sini, lanjuttttttttt...

Kita anggap kita adalah siswa yang akan lulus dengan kepintaran yg cukup, lalu kita memiliki universitas impian dan pekerjaan impian, akan tetapi di lain sisi, orang tua kita juga menyadari potensi kita dan telah menentukan universitas impian dan pekerjaan impian mereka untuk kita. Di sini akan terjadi konflik (bukan cuma konflik batin, ada juga yang sampai minggat dari rumah bro!) antara kemauan kita dan kemauan si orang tua kita. Jujur ini juga terjadi ama gw, dan gw punya paham sendiri untuk melihatnya.

Hun, tahukah kalian kalau semua pekerjaan adalah sama? Entah itu supir taksi, dokter, atau guru. Yang membedakan hanyalah keprofesionalitasan dan dedikasi kita yang membuat pekerjaan kita bernilai super daripada orang lain.

Gw perjelas, di Jepang sana, supir taksi akan diberi nilai sama dengan akuntan. Mereka saling menghormati, menghargai, dan membutuhkan satu sama lain. Lain dengan negara asia tenggara yang diapit oleh 2 samudera dan 2 benua ini, di sini terjadi diferensiasi hormat antara pembersih lingkungan (maaf, tukang sampah) dengan pilot. Mungkin, tingkat kemapanan lah yang membuat sudut pandang masyarakat kita terhadap masalah ini. Inilah tolak ukur orang tua kita (generally) untuk masa depan kita. Isn't a wrong view

Terkadang orang tua kita memberi opsi pekerjaan yang mapan, contohnya birokrat, sedangkan kita sendiri memimpikan bahwa kita adalah seorang sarjana tambang yang jelas bertolak belakang dengan abdi negara. Di sini, kedewasaan anak kelas 3 SMA sangat di perlukan kawan, tidak ada salahnya menuruti orang tua, karena mereka pasti tahu yang terbaik bagi kita, tapi jika anda-anda sekalian merasa di pekerjaan itu adalah gw , dan terucap kalimat "di sana hidup gw", maka anda harus terus mengejarnya. Saya berikan contoh begini, pabrik tentu tahu tentang motor dan kelistrikannya, akan tetapi yang lebih tahu adalah pemilik motor itu sendiri. Begitu juga kita dan orang tua kita. Jika kita mencintai pekerjaan kita dan jalan hidup kita, akan muncul ide dan inovasi berharga. Kita juga harus siap menanggung semua resiko langkah dan pekerjaan yang akan kita ambil, karena kita telah mengganti merk celana dalam kita dari Young Kids menjadi Young Man. Sehingga supir taksi berdedikasi dan profesional akan mampu menjadi supir perdana menteri yang berpenghasilan lebih tinggi dari seorang insinyur sipil. Inovasi itu berguna dan akan sangat berjarga, for us, for our religion, even for our nation. Dan inovasi akan muncul dari kecintaan kita terhapad pekerjaan kita...Percaya saya (Trust Me!)


Tuan-tuan, mimpi adalah habitat dari harapan. Karenanya, orang yang bunuh diri adalah orang yang tidak lagi mempunyai mimpi. Berdedikasilah and chase your dream!